ANALISIS PENGENDALIAN RISIKO KESEHATAN PADA PELAKU PERJALANAN MELALUI DOKUMEN SIAOS DI PELABUHAN FERRY B (JANUARI - JUNI 2025)
ANALISIS PENGENDALIAN RISIKO KESEHATAN PADA PELAKU PERJALANAN MELALUI DOKUMEN SIAOS DI PELABUHAN FERRY B (JANUARI - JUNI 2025)
Oleh : dr. Rosaline Darwis, M.KKK*
Pelabuhan merupakan pintu masuk penting dalam pengendalian faktor risiko penyakit pada pelaku perjalanan sakit. Salah satu strategi mitigasi risiko di pelabuhan laut adalah penerbitan SIAOS oleh pegawai Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan. Dokumen ini berfungsi untuk mengidentifikasi pelaku perjalanan berisiko, menetapkan syarat perjalanan aman seperti penggunaan alat pelindung diri, pendamping medis, atau alat bantu medis, serta menjadi bukti intervensi administratif dan epidemiologis dalam pengendalian penyakit. Kepatuhan terhadap SOP dan kelengkapan dokumen SIAOS menentukan akurasi penilaian risiko penyakit, yang berdampak pada keselamatan pelaku perjalanan dan masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengendalian faktor risiko penyakit melalui penerbitan SIAOS serta menilai hubungan pemenuhan Standar Operasional Prosedur (SOP) dengan status risiko pasien sebelum keberangkatan.
Metode Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional) dan dilaksanakan di Pelabuhan Feri B Batam periode Januari–Juni 2025. Sampel penelitian berjumlah 24 pelaku perjalanan sakit dari total 397 kunjungan klinik. Data diperoleh melalui observasi dan telaah dokumen SIAOS. Analisis dilakukan menggunakan uji Fisher Exact, korelasi Spearman, odds ratio, serta regresi logistik biner dengan koreksi Firth untuk mengatasi bias akibat ukuran sampel kecil.
Hasil dan Pembahasan
Hasil penelitian diketahui bahwa dari total 24 responden, sebagian besar berjenis kelamin laki-laki, yaitu sebanyak 13 responden (54,2%), sedangkan responden perempuan berjumlah 11 responden (45,8%). Dari sisi usia, mayoritas responden berada pada kelompok usia di atas 60 tahun, yakni sebanyak 14 responden (58,3%), sementara responden berusia di bawah 60 tahun berjumlah 10 responden (41,7%). Hal ini menunjukkan bahwa populasi penelitian didominasi oleh responden dengan usia lanjut, yang secara klinis berpotensi memiliki risiko lebih tinggi terhadap ketidakstabilan kondisi kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengendalian faktor risiko penyakit di pelabuhan telah berjalan sangat baik. Indeks pengendalian faktor risiko penyakit di Pelabuhan B mencapai 99,24 %, yang menunjukkan bahwa hampir seluruh temuan faktor risiko penyakit dapat ditangani secara efektif di lokasi pelabuhan. Penerbitan dokumen SIAOS berjalan sesuai prosedur, dengan sebagian besar pelaku perjalanan memiliki dokumen lengkap, skrining gejala, verifikasi diagnosis, ketersediaan pendamping medis, serta penerapan protokol APD. Kepatuhan terhadap pemenuhan Standar Operasional Prosedur (SOP) juga tergolong tinggi, dengan 18 responden (75,0%) berada pada kategori terpenuhi, meskipun masih terdapat 6 responden (25,0%) yang belum memenuhi SOP secara optimal. Namun, analisis bivariat dan multivariat menunjukkan bahwa jenis kelamin, usia, kelengkapan dokumen, ketersediaan pendamping medis, dan kepatuhan SOP tidak berhubungan signifikan dengan status risiko pasien berdasarkan nilai Glasgow Coma Scale (GCS) . Hasil tersebut menunjukkan meskipun mekanisme administratif dan protokol pelabuhan sudah diterapkan dengan baik, hal tersebut tidak menjamin kondisi klinis pasien langsung terkontrol, karena status risiko pasien lebih dipengaruhi oleh kondisi medis individu.
Kesimpulan dan Saran
Pelabuhan Feri B Batam telah melaksanakan pengendalian faktor risiko penyakit pada pelaku perjalanan sakit dengan sangat baik dengan indeks pengendalian faktor risiko sebesar 99,24%. Penerbitan dokumen SIAOS telah dilaksanakan sesuai dengan standar operasional prosedur yang berlaku. Hasil uji statistik (bivariat, regresi logistik, dan regresi Firth) menunjukkan bahwa jenis kelamin, usia, kelengkapan dokumen, ketersediaan pendamping medis, dan kepatuhan SOP tidak berhubungan secara signifikan dengan status risiko pasien berdasarkan Glasgow Coma Scale (GCS). Guna meningkatkan upaya pengendalian faktor risiko penyakit melalui penerbitan dokumen SIAOS terdapat beberapa rekomendasi antata lain perbaikan dan standarisasi SOP SIAOS, peningkatan monitoring klinis, pelatihan dan kapasitas Petugas Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan, integrasi data dan sistem informasi serta edukasi kesehatan kepada pelaku perjalanan sakit mengenai pencegahan penyakit menular, penggunaan APD, dan pentingnya pendampingan medis perlu diperkuat untuk menurunkan risiko perjalanan
*Dokter Ahli Madya Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Batam