HUBUNGAN FAKTOR RISIKO OBESITAS DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI DI WILAYAH PELABUHAN HARBOUR BAY TAHUN 2024
HUBUNGAN FAKTOR RISIKO OBESITAS DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI DI WILAYAH PELABUHAN HARBOUR BAY TAHUN 2024
Oleh : dr. Rosaline Darwis, M.KKK*
Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang sering ditemukan di tengah masyarakat dengan prevalensi di Indonesia sebesar 30,8%, merupakan salah satu golongon penyakit tidak menular (PTM) yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia karena kontribusinya terhadap penyakit kardiovaskuler sebagai penyumbang angka kesakitan dan kematian di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan usia, jenis kelamin dan status obesitas dengan kejadian hipertensi, melalui pendekatan cross sectional.
Metode Penelitian
Penelitian ini merupakan jenis penelitian analitik deskriptif dengan desain studi menggunakan pendekatan cross sectional yang mempelajari korelasi antara paparan atau faktor risiko (independent) dengan akibat atau efek (dependen), dengan pengumpulan data dilakukan bersamaan secara serentak dalam satu waktu antara faktor risiko dengan efeknya. Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diambil dari kegiatan pemeriksaan Kesehatan Masyarakat Pelabuhan dalam rangka skrining Penyakit Tidak Menular (PTM) di wilayah kerja BBKK Batam yaitu wilayah kerja Pelabuhan Harbour Bay Bulan September 2024 dengan populasi sebanyak 219 orang, bertujuan untuk mengetahui hubungan obesitas dengan kejadian hipertensi pada masyarakat pelabuhan di wilayah pelabuhan Harbour Bay Batam. Variabel independen pada penelitian ini adalah status obesitas, usia dan jenis kelamin dan variabel dependen yaitu kejadian hipertensi.
Hasil dan Pembahasan
Analisi Univariat
Hasil analisis univariat dari 219 orang yang diteliti, sebagian besar adalah kelompok umur 18-45 tahun (80,82%) dan berdasarkan jenis kelamin sebagian besar adalah perempuan (61,19%). Berdasarkan pengelompokkan jenis pekerjaan, hampir sebagian besar yang memeriksakan diri adalah mereka yang pekerjaannya tidak mengandalkan otot (89,95%) sedangkan pekerjaannya mengandalkan otot hanya 10,05% yang memeriksakan diri. Berdasarkan hasil pengambilan sampel darah untuk kadar glukosa sewaktu, terdapat hanya 5,94 % orang yang kadar GDS melebihi batas normal >200 mg/dL dan 94,06% memiliki kadar glukosa sewaktu dalam batas normal. Persentase orang yang memiliki kadar kolesterol total diatas batas normal 200mg/dL 49,77%, sedangkan yang memiliki kadar kolesterol normal < 200 mg/dL sebanyak 50,23 %. Dari 219 orang yang diperiksa terdapat 41 orang (18,72 %) yang dikategorikan menderita hipertensi dan 178 orang (81,28 %) yang tidak hipertensi. Sementara untuk kategori status obesitas terlihat bahwa persentase orang penderita obesitas adalah 40,18 % dan 59,82 adalah tidak obesitas.
Analisa Bivariat
Hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi square menghasilkan taraf signifikasi nilai p-value 0,000 (bermakna) antara umur dan obesitas dengan nilai PR 3,47 (CI 1,22-9,87) untuk kelompok umur diatas 54 tahun, dan nilai PR 2,66 (CI 1,21-5,81) untuk kelompok umur 46-54 tahun (dengan kelompok umur 18-45 tahun sebagai referensi). Hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi square antara jenis kelamin dan obesitas menghasilkan p-value 0,0040 dengan PR 0,45. Hasil uji chi square antara obesitas dengan dengan hipertensi terbukti secara statistic bermakna dengan PR adalah 1,90 artinya responden dengan obesitas memiliki risiko 1,9 kali menderita hipertensi dibanding orang yang tidak hipertensi.
Kesimpulan dan Saran
Prevalensi kejadian hipertensi pada masyarakat di wilayah pelabuhan masyarakat di wilayah Pelabuhan Harbour Bay adalah 18,72% dan prevalensi obesitas adalah 40,2 %. 2. Hasil uji statistik terdapat hubungan yang signifikan antara obesitas dengan Kejadian Hipertensi pada masyarakat di pelabuhan, nilai p-value 0,0213 dengan besar hubungan risiko penderita obesitas menderita hipertensi adalah 1,90 CI (1,16 – 2,28) lebih tinggi dibanding responden yang tidak obesitas. Mengingat tingginya prevalensi obesitas yang dapat menjadi factor resiko terjadinya hipertensi, maka perlunya mengoptimalkan kegiatan skrining PTM dengan rutin dilaksanakan minimal setahun 2 kali (maksimal tiap pelaksanaan berjarak 1 (bulan) sebagai salah satu upaya pencegahan dan pengendalian PTM khususnya hipertensi. Upaya pencegahan terjadinya hipertensi dan penyakit tidak menular lainnya dapat dilakukan melalui upaya promosi kesehatan meliputi diadakannya kegiatan aktivitas olahraga bersama (senam) rutin, edukasi kesehatan dengan media running text di pelabuhan.
*Dokter Ahli Madya Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan Batam